Rabu, 27 Februari 2019

Umroh 2018 : Trip 18 Jam di Turki part 1 - Blue Mosque


Blue Mosque-Masjid Sultan Ahmed-Turki

Assalamualaikum,

Mungkin sudah agak terlambat cerita tentang perjalanan liburan religiku tahun lalu tapi rasanya sayang kalau ada info yang tidak terbagikan untuk para pembaca blog ini. Yes, kali ini aku mau cerita tentang pengalaman pertama melalukan perjalanan keluar neger karena bakal panjang banget ceritanya aku bagi menjadi 2 postingan yang berbeda. Nah, karena ini perjalanan perdana maaf kalau norak 😂 karena jujur saja bisa dibilang perjalanan jauh seperti ini tanpa adanya persiapan matang, itu adalah kesalahan pertamaku. 


Alhamdulillah di akhir tahun 2018 aku dan suami mendapatkan panggilan ke tanah suci Mekah dan Madinah untuk melakukan ibadah umroh. Waktu itu semua serba mendadak sama sekalli enggak ada persiapan, serius. Bahkan untuk perlengkapan pribadi kami hanya membawa seadanya padahal biasanya aku adalah orang yang paling enggak suka kalau perjalanan tidak terencana dengan baik, semua harusnya teratur secara detail sampai ke hal yang paling terkecil contohnya, sikat gigi. Karena semua serba mendadak kami hanya menghabiskan waktu untuk mengurus semua paperwork yang kami pikir itu lebih penting. Untungnya pihak travel sangat membantu kebutuhan kami akan hal itu apalagi untuk urusan pasport. 

Oh iya waktu itu kami mendaftar di Alsha Tour-Condet atas rekomendasi dari sepupu suami yang sebelumnya sudah terlebih dahulu berangkat. Tadinya kami berniat merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-10 dengan melakukan ibadah umroh tapi sayangnya tanggal yang kita mau sudah full booked jadi kami harus puas dengan pilihan tanggal yang masih ada. Singkat cerita akhirnya kami mendapatkan jadwal keberangkatan tanggal 5 November 2018 dan kembali tanggal 13 November 2018, satu minggu lebih jika dihitung dengan durasi keberangkatan dan kepulangan. 

Paket umroh yang kami ambil ada paket city tour Turki dikarenakan pesawat yang kami gunakan untuk periode tersebut adalah Turkish Airlines. Berdasarkan info yang kami dapat dari pihak travel karena menggunakan maskapai tersebut jadi diharuskan transit terlebih dahulu ke Turki selama kurang lebih 18 jam sebelum melanjutkan ke tempat tujuan pertama yaitu Madinah.  Jadi rentang waktu itu kami gunakan untuk melakukan city tour dan mengunjungi beberapa tempat penting dan terkenal di Turki. 

Waktu itu kami take off sekitar pukul 10 atau 11 malam (tepatnya lupa) yang jelas kita perjalanan malam dari sini dan semalaman di udara. Lama perjalanan sekitar 10 jam lebih, aku tidak terlalu memperhatikan karena waktunya malam jadi aku lebih memilih tidur 😂 untuk mempersiapkan esok hari agak lebih segar. Tiba di bandara Ataturk Turki sekitar pukul 6 pagi setelah menyelesaikan semua urusan administrasi bandara, sempat mengambil uang juga di atm karena kami tidak menemukan tempat penukaran mata uang Lira Turki di Indonesia. Kena biaya administrasi bank pastinya. Tips: ambil secukupnya dan sebaiknya habiskan karena kalau ditukar Rupiah atau mata uang lainnya harganya akan sangat rendah.  

Kami shalat subuh di bandara, hanya sempat cuci muka tidak sempat mandi dan lainnya. Keluar bandara sekitar pukul 7 pagi waktu Turki dan cuaca sedang agak mendung, udara cukup dingin sekitar 17℃ (kalau liat di aplikasi Weather) dan matahari belum terbit. Terlihat sisa-sisa musim gugur masih terlihat dan menurut Guide kami pada waktu itu sudah mau masuk musim dingin dalam seminggu kedepan dan udara akan semakin dingin. Alhamdulillah udara dinginnya masih bisa diterima oleh badanku.

Pemberhentian pertama kami adalah mencari tempat sarapan yang mana tempat makan yang akan kami kunjungi ternyata milik orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sana. Namanya Warun Ibu Deden yang letaknya tidak jauh dari komplek Hagia Sophia dan Blue Mosque. Makanan yang disajikan nasi goreng dan pelengkapnya dengan citarasa Indonesia. Tapi karena di pesawat sudah makan jadi aku tidak makan terlalu banyak selain itu mulai terasa sedikit jet lag tapi masih harus meneruskan city tour kami. 

FYI: daerah yang pertama kami kunjungi ini konturnya naik turun karena mungkin dulunya adalah perbukitan dan sepanjang yang aku lihat banyak sekali benteng seperti ini dengan kondisi yang masih sangat terawat walau ada beberapa bagian yang sudah hilang termakan waktu. Ini adalah benteng sisa kejayaan Kerajaan Constatinopel kalau kalian berkesempatan ke sana bakal menemukan banyak sekali. Termasuk di daerah yang aku datangi ini. 

FYI: ini bukan fotonya yang miring ya, tapi memang konturnya yang naik dan turun jadi bangunan yang ada disana mengikuti kontur tanah. 




Salah satu kesalahan lainnya adalah kami berbelanja souvenir dahulu sebelum sebelum mengunjungi Hagia Sophia dan Blue Mosque. Jadi belanjaan harus dibawa berjalan naik turun bukit di sinilah stamina mulai diuji. Sayangnya waktu itu bus yang membawa kami berkeliling tidak bisa parkir lama karena jalanan tempat kami berkunjung ini sangat ramai dan tidak terlalu besar jadi bis harus parkir di tempat lain yang jaraknya cukup jauh dan jalanan yang permukaannya datar tidak naik turun. Jadi kami tidak menyimpan barang-barang di dalam bus. Atas saran guide, kami juga harus ekstra hati-hati dengan barang bawaan kami terutama tas yang berisi barang berharga karena tempat yang kami datangi ini cukup ramai jadi rawan kejahatan seperti pencopetan. 




Nama toko tempat membeli oleh-oleh waktu itu adalah Sah Bazaar, tadinya aku kira akan berkunjung ke Grand Bazaar tempat oleh-oleh terbesar di Turki ternyata tidak masuk dalam itenary dikarenakan waktu yang juga tidak memungkinkan. Toko yang dipilih oleh guide kami cukup lengkap pilihan oleh-oleh dan souvenir khas Turki. Dari dulu aku ingin sekali mencoba yang namanya Turkish Delight atau yang disebut juga Lokum. Ternyata pilihannya cukup banyak mulai dari yang polos, hingga ada isian kacang-kacangan dan coklat. Mau tahu seperti apa rasanya? Harus ke Turki dulu 😂 atau main ke bandara Soeta terus cari dibagian Duty Free, siapa tahu ada disana. 

Tolong jangan salah fokus sama abang yang jual-nya 😂!

Rata-rata penjual souvenir bisa berbahasa Indonesia walau tidak lancar, tapi mereka tahu kalau yang belanja dari Indonesia dan langsung menyambut dengan berbahasa Indonesia. Mungkin kalau urusan bisnis harus semua bahasa dikuasai biar lancar, dagangan habis! Kalau tidak ingat kapasitas bagasi pesawat dan masih harus berkunjung ke beberapa tempat mungkin sudah belanja banyak. Aku hanya membeli beberapa macam Lokum dan teh herbal. Kalau pak suami beli alat yang sering digunakan untuk membuat kopi di Turki tapi malah tidak membeli kopi Turki, duh! 😓








Perjalanan dilanjutkan menuju tempat yang menjadi ikonnya Negara Turki yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami berbelanja. Tempat pertama yang kami datangi yaitu Blue Mosque atau Masjid Biru atau yang sebenarnya namanya adalah Masjid Sultan Ahmed. Untuk tahu alamat persisnya bisa klik link-nya ya karena kalau ditulis manual aku takut salah penulisan nama dan detail lainnya jadi aku serahkan pada Google. Masjidnya sangat besar aku sampai susah mengambil sudut yang pas untuk difoto. Ini hanyalah sisi lain dari bagian masjid yang besar ini dan yang membuatnya disebut Blue Mosque adalah karena pada jaman awal dibangunnya masjid ini memiliki interior yang didomonasi dengan warna biru. Tapi kini yang bisa dilihat hanya bagian kubahnya yang masih berwarna biru itu  juga kalau dilihat dari atas. Dan ketika ke sana sedang ada renovasi di beberapa bagian masjidnya tapi hal ini tidak mengurangi keindahan masjid itu sendiri.

Dibangun pada masa pemerintaahan Sultan Ahmed I pada tahun 1609-1616 dan terletak di kawasan tertua Istanbul dan berdekatan dengan Hagia Sophia (sekarang menjadi museum) yang akan aku bahas di postingan setelah ini. Tapi aku enggak bakal membahas secara detail tentang sejarah masjid ini karena nanti postingan bakal semakin panjang lagi. Sebenarnya pintu masuknya banyak cuma karena kami datang dari arah Hippodrome (alun alun di depan Blue Mosque) jadi kami harus melewati area taman terlebih dahulu dan tembok yang membatasi dengan area Hagia Sophia.



Ukuran masjid ini sangat besar, pastinya dengan desain klasik dan masih dipertahankan keaslian design dari jaman awal dibangun. Oh iya walaupun ini masjid, untuk pengunjung yang non muslim tetap boleh masuk  hanya saja nanti akan disediakan penutup kepala seperti selendang dan disediakan juga plastik untuk membawa alas kaki. Jangan lupa untuk menggunakan pakaian yang sopan jangan pakai celana pendek atau kaos. Dan kalau mau berkunjung jangan ketika waktu shalat karena masjid akan ditutup sementara. 









Miniatur Masjid Nabawi


Kubah Hagia Sophia terlihat dari halaman Blue Mosque

Aku buatkan sedikit cuplikan tentang perjalanan di sekitar Masjid Biru, maaf kalau tidak terlalu banyak footage yang bisa diambil karena kalau group tour enggak bisa santai, harus serba cepat kalau enggak nanti ditinggalin rombongan, kan enggak lucu kalau nyasar di Turki. Cerita akan dilanjutkan lagi nanti jadi tunggu saja update-nya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa sertakan nama dan alamat blognya (kalo ada)